MATARAM, MATITINEWS.COM – Puluhan jurnalis dan organisasi profesi wartawan, Sabtu (26/1) menandatangani Petisi penolakan Kepres 2009 Tahun 2018, tentang pemberian keringanan hukuman kepada I Nyoman Susrama, pembunuh AA Prabangsa, dari hukuman seumur hidup menjadi hanya 20 tahun penjara.
Keppres yang dikeluarkan Presiden RI Joko Widodo itu diminta dicabut, karena telah menciderai rasa keadilan dan bertentangan dengan perjuangan kemerdekaan pers.
Penandatanganan petisi berlangsung di Taman Budaya NTB, sebagai rangkaian pelaksanaan Konferensi Kota (Konferta) ke – IV Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mataram.
Petisi ditandatangani di atas spanduk putih sepanjang 30 meter. Salain jurnalis, ikut membubuhkan tandatangannya yakni dari kalangan pers mahasiswa, NGO, aktivis antikorupsi, serta perwakilan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI).
Para peserta meminta Presiden RI segera membatalkan Keppres yang meringankan hukuman Susrama. Lahirnya Keppres tersebut, tidak saja melukai perasaan keluarga korban, tapi juga melukai jurnalis dari seluruh Indonesia dan masyarakat umumnya.
Maya Oktavira, salah seorang peserta yang menandatangani petisi, bahwa Keppres tersebut menjadi ancaman bagi kebebasan pers. Karena tidak menutup kemungkinan, remisi dan berbagai pengampunan akan diberikan kepada pelaku kejahatan terhadap jurnalis lainnya.
“Jika sudah seperti ini, dimana rasa keadilan bagi jurnalis dan keluarganya yang menjadi korban? Dimana rasa keadilan bagi jurnalis yang hari ini masih terancam kebebasannya?,” kata Maya.
Sebelum tanda tangan dibubuhkan, orasi disampailan Koordinator Wilayah AJI Bali – Nusra Abdul Latif Apriaman. Dengan nada lantang dia menegaskan, bahwa tidak ada ruang sedikit pun bagi pembunuh jurnalis yang begitu mudah merencanakan lalu menghirup udara bebas.
“Kita lawan Keppres yang berpotensi akan segera membebaskan pembunuh jurnalis. Cabut remisi untuk pembunuh jurnalis,” teriaknya.
Terbitnya Keppres itu sama saja dengan upaya membungkam kebebasan pers. Karena menurut dia, korban AA Prabangsa adalah jurnalis yang dibunuh karena memberitakan kasus korupsi melalui medianya Radar Bali. Pesannya kepada para jurnalis, tidak berarti peristiwa itu pahit, ditambah dengan terbitnya Keppres remisi yang menyayat perasaan, lantas jurnalis menjadi surut. Jurnalis menurutnya pantang surut menyuarakan kebenaran penuh tanggungjawab dan integritas.
Aksi semakin berwarna dengan performa anggota AJI Mataram, Adi Njer. Lagu diiringi musik akustik “apa kabar para pewarta”, lirik besutan Pikong ini tentang kisah para jurnalis yang harus tetap bekerja dengan semangat.
“Tegarlah tegar, segarlah segar. Biar penguasa tersadar, bahwa keadilan harus ditegakkan, agar sejahtera milik bersama,” ujarnya.
Aksi ditutup dengan membentangkan spanduk dan flayer penolakan Keppres remisi bagi pembunuh jurnalis. (*)
![]()
















