LOMBOK TIMUR – Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) NTB bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Nusa Tenggara Barat, Forum Wartawan Lingkungan (FWL), dan Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi) Lombok menggelar kegiatan penghijauan dan bakti sosial di Mualan Benyer, Desa Telagawaru, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Sabtu (20/6).
Kegiatan ini digelar sebagai bentuk dukungan terhadap ritual budaya Molang Maliq Mualan Benyer yang diselenggarakan Pemerintah Desa Telagawaru bersama Perkumpulan Menduli Selayar.
Sebanyak 43 pohon ditanam di area mata air Mualan Benyer, lokasi yang disakralkan warga setempat dan sedang diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke Kementerian Kebudayaan RI. Jenis pohon yang ditanam antara lain Mahoni, Kupu-kupu, Palem, Ketapang Kencana, dan Kenari.
Dewan Pembina JMSI NTB, Haji Rudi Hidayat, menyebut kegiatan ini merupakan program rutin JMSI NTB bekerja sama dengan INTI NTB. Kali ini pelaksanaannya atas permintaan Perkumpulan Menduli Selayar yang dipimpin Akeu Surya Panji.
Rudi, yang juga menjabat Sekretaris INTI NTB, mengucapkan terima kasih atas dukungan Pemerintah Desa Telagawaru, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pemuda yang turut hadir. Ia menegaskan kegiatan ini murni bermuatan sosial dan lingkungan, tanpa kaitan dengan kepentingan politik.
Ia menambahkan, program serupa sebelumnya juga dilaksanakan di Pondok Pesantren Azzainiyah Al-Majidiyah NW, Kotaraja, Kecamatan Sikur, serta penanaman sekitar 2.000 pohon cemara di kawasan Pantai Induk, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.
Pohon yang ditanam di Mualan Benyer dipilih dalam ukuran relatif besar agar tingkat keberhasilan tumbuhnya lebih tinggi. “Mudah-mudahan Allah SWT memberi izin, meridai kegiatan kita hari ini, dan memberkahi kita semua,” ujar Rudi.
Ketua Harian INTI NTB, S. Wijanarko, mengaku terkesan dengan keramahan warga Desa Telagawaru, termasuk para ibu dan anak-anak yang terlihat mandi bersama di area mata air tersebut. Ia berharap penanaman pohon membuat kawasan Mualan Benyer semakin hijau dan sejuk, sekaligus menjaga kelestarian sumber airnya.
Sekretaris Desa Telagawaru, Junaidi, menjelaskan bahwa Mualan Benyer memiliki kedudukan penting bagi masyarakat setempat, bukan hanya sebagai sumber air tetapi juga sebagai pusat ritual adat yang diwariskan lintas generasi. Ia menyebut warga memandang lokasi ini sebagai ruang spiritual dan budaya yang harus dijaga bersama demi keseimbangan hidup.
Mualan Benyer selama ini digunakan untuk berbagai prosesi adat, termasuk pengobatan tradisional, mandi pengantin, molang maliq bagi anak pertama, hingga khitanan. Keberadaannya menjadi bagian penting identitas budaya masyarakat Telagawaru.
Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar, Akeu Surya Panji, menyampaikan terima kasih atas dukungan berbagai pihak terhadap pelestarian lingkungan dan budaya di kawasan ini. Menurutnya, keterlibatan organisasi sosial dan masyarakat memberi energi positif bagi keberlangsungan tradisi adat setempat. Perkumpulan ini juga aktif menjaga kesenian tradisional Kebangru’an yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, sekaligus menjadi ruang belajar generasi muda untuk mengenal sejarah dan akar budaya lokal.
Kegiatan ini turut dihadiri Wakil Ketua INTI NTB S. Widjanarko, Ketua JMSI NTB H. Boy Mashudi, Sekretaris JMSI NTB Sukri Aruman, Anggota Dewan Pakar JMSI NTB Agus K. Saputra, Sekretaris Ikawangi Lombok Mansur, Ketua Forum Wartawan Lingkungan Indonesia (FWLI) NTB Saudi, serta perwakilan Keluarga Besar Putra Putri Polri (KBPP Polri) PR Mataram.
Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis 50 bingkisan berupa alas kaki dan mainan anak-anak kepada Sekretaris Desa Telagawaru, tokoh masyarakat, karang taruna, dan perwakilan anak-anak yang hadir. Acara seremonial ditutup dengan penampilan karaoke dari Ketua JMSI NTB dan INTI, sebelum dilanjutkan dengan penanaman pohon di beberapa titik kawasan Mualan Benyer. (***)
![]()



















