DOMPU – Sebelas nyawa kini bergantung pada ketertiban minum obat setiap hari, tanpa jeda, tanpa alasan untuk lupa. Itulah kenyataan yang dihadapi para pengidap HIV yang saat ini menjalani pengobatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dompu, terhitung sejak Januari hingga Juni 2026. Delapan di antaranya laki-laki, tiga lainnya perempuan, dan seluruhnya menempuh jalan panjang yang sama yakni, terapi seumur hidup yang tidak bisa ditawar.
Direktur RSUD Dompu, dr. Fitratul Ramadhan, menjelaskan bahwa penanganan pasien HIV di rumah sakit tersebut umumnya tidak berdiri sendiri. Sebagian besar pasien yang menjalani rawat inap juga mengidap penyakit penyerta, terutama yang berkaitan dengan gangguan paru-paru.
“Kita obatin berdasarkan gejala,” ujar dr. Fitratul, seraya menekankan bahwa pendekatan medis yang diberikan disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien saat masuk rumah sakit.
Disebutkan bahwa, penanganan pasien HIV di RSUD Dompu mengikuti tahapan tertentu. Ketika pasien pertama kali dirawat, fokus utama tenaga medis adalah menstabilkan kondisi tubuh pasien, termasuk mengatasi infeksi atau penyakit penyerta yang muncul akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh.
Setelah kondisi pasien dinilai cukup stabil, barulah terapi antiretroviral atau ARV mulai diberikan. Menurut direktur RSUD yang saban disapa dr. Fit ini, pemberian ARV dimulai sejak pasien masih berada di ruang perawatan, kemudian dilanjutkan secara rutin di poliklinik rumah sakit setelah pasien diperbolehkan pulang.
“Pengobatan ARV ini berlangsung seumur hidup,” kata dr. Fitratul.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa terapi ARV bukan pengobatan jangka pendek yang berhenti setelah gejala mereda. Pasien HIV memerlukan komitmen jangka panjang untuk mengonsumsi obat tersebut secara teratur demi menekan jumlah virus dalam tubuh dan menjaga fungsi sistem imun.
Harapan Hidup Bergantung pada Kepatuhan
Kabar baiknya, kata dr. Fit, harapan hidup pasien HIV di Dompu tergolong baik, selama mereka disiplin menjalani pengobatan. Kepatuhan minum ARV secara rutin serta mengikuti seluruh arahan tenaga medis menjadi kunci utama keberhasilan terapi.
“Pasien akan cukup stabil dan harapan hidupnya bagus bila minum ARV rutin dan pengobatan sesuai petunjuk tenaga medis,” jelasnya.
Pernyataan ini sejalan dengan prinsip penanganan HIV secara medis, di mana ARV berfungsi menekan replikasi virus sehingga jumlah virus dalam darah dapat ditekan hingga level yang sulit terdeteksi. Kondisi ini memungkinkan pasien menjalani kehidupan yang relatif normal dan produktif, selama pengobatan tidak terputus.
Perhatian Berkelanjutan
Data sebelas pasien yang tercatat menjalani pengobatan di RSUD Dompu sepanjang semester pertama 2026 ini menjadi gambaran bahwa penanganan HIV di kabipaten Dompu terus berjalan dan membutuhkan perhatian berkelanjutan dari fasilitas kesehatan setempat. Kombinasi penanganan penyakit penyerta, terutama gangguan paru, dengan terapi ARV jangka panjang menuntut kesiapan sumber daya medis yang memadai.
Pihak RSUD Dompu menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi pasien HIV, baik saat masa perawatan intensif di ruang rawat inap maupun pada tahap pemantauan lanjutan di poliklinik, guna memastikan setiap pasien mendapatkan pengobatan yang berkelanjutan dan sesuai standar medis. (Ube)
![]()


















