DOMPU – MATITINEWS.COM – Keberadaan Program Innovative Farming Systems and Capabality for Agribusiness Activity (IFSCA) kerjasama Universitas Mataram dan Universitas Massey New Zealand yang sejak 2016 diluncurkan di Kabupaten Dompu, hingga saat terus memberikan manfaat yang sangat signifikan bagi para petani, terutama dalam hal peningkatan kemampuan.
Hal itu dibuktikan dengan keberhasilan kelompok tani ternak binaan dalam melaksanakan uji coba penggemukan sapi dengan ransum berbasis lamtoro dan gamal. Selain uji coba penggemukan sapi dengan lamtoro dan gamal berbagai program lainnya juga telah sukses dilaksanakan.
Sabtu (04/8) IFSCA menggelar kegitan Field Day (temu lapang) ‘Penggemukan sapi dengan ransum berbasis lamtoro dan gamal’ di kelompok tani ternak binaan ‘Mada Lemba Jaya’ Kelurahan Simpasai, Kecamatan Woja. Hadir dalam kegiatan tersebut, Prof. M. Taufik Fauzi selaku Team Leader program IFSCA, Prof. Dahlanudin, ketua Tim peneliti uji coba pemberian pakan lamtoro dan gamal pada sapi, Kepala Dinas Peternakan, Kepala Bidang, Kepala UPTD, field officer program IFSCA, pengusaha, serta puluhan petani ternak.
“Temu lapang ini merupakan bagian dari program IFSCA, kerjasma antara Massey University, Universitas Mataram, dengan Pemkab Dompu dan di danai oleh New Zealand Aid Program (NZAid). Tujuan utamanya adalan untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan masyarakat tani dan ternak,” ungkap Prof. M. Taufik Fauzi dalam sambutanya.
Untuk meningkatkan kemampuan petani itu sendiri lanjut Taufik Fauzi, pihaknya terus intens melakukan pelatihan – pelatihan terhadap petani serta kegiatan temu lapang. Itu dilakukan agar bagaimana masyarakat dapat melihat langsung proses dalam bertani maupun beternak.
“Seperti hari ini kita lihat sendiri hasil penelitian terapan, kenapa field day di adakan agar kita sama-sama melihat bagaimana dalam waktu yang singkat kita bisa meningkatkan berat badan sapi dengan teknologi sederhana berdasarkan pakan yang ada yakni lamtoro dan gamal, yang mungkin selama ini tidak dimanfaatkan,” paparnya.
Lebih jauh Profesor Taufik menjelaskan, bahwa di Kabupaten Dompu, persoalan utama yang dihadapi oleh peternak sapi adalah kekurangan pakan, terutama di musim kemarau. Untuk mengatasi persoalan tersebut, kegiatan utama IFSCA adalah penyebarluasan penanaman lamtoro dan penggemukan sapi berbasis lamtoro dan gamal.
Saat ini Lamtoro Taramba yang di impor dari Australia telah berkembang pesat di Kabupaten Dompu, sementara gamal sendiri sudah banyak dikembangkan oleh masyarakat, hanya saja belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat sebagai pakan penggemukan sapi.
Uji coba yang dilakukan di kelompok tani ‘Mada Lemba’ tersebut ditujukan sebagai demonstrasi bagi peternak tentang manfaat pemberian Lamtoro dan Gamal terhadap pertambahan berat badan sapi penggemukan. Dan hasilnya, pakan campuran Lamtoro dan gamal pada berbagai rasio dan dedak 1 kg, itu dapat meningkatkan pertambahan berat badan yang hampir sama dengan pemberian lamtoro 100 % yang disuplementasi dengan 1 kg dedak, yakni 0,5 kg per hari (15 kg per bulan) atau dua kali lipat dari pertambahan berat badan sapi yang hanya diberikan rumput.
“Dengan berkembangnya Lamtoro dan Gamal ini, petani diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ternak sapi dan tidak lagi mengalami kesulitan pakan di musim kemarau, jadi petani tidak lagi bergantung pada rumput,” ujar Profesor Taufik.
Senada disampaikan oleh ketua tim peneliti uji coba pemberian pakan lamtoro dan gamal, Profesor Dahlanudin, dihadapan wartawan ia mengungkapkan bahwa penggemukan sapi dengan ramsum lamtoro dan gamal merupakan solusi yang sangat praktis dilakukan. Pemberian pakan lamtoro dan gamal akan mempercepat pertumbuhan berat badan sapi.
Dengan pemberian pakan ini kata dia, terjadi kenaikan berat badan sapi yakni 0.45 kg per hari atau minimal 12 sampai 14 kg perbulan, dan itu dua kali lipat dari percepatan pertumbuhan sapi yang dilepas
“Nantinya harga juga pasti akan jauh lebih bagus. Dan target kami adalah bagaimana petani di dompu tidak lagi menjual langsung sapi dari padang, akan tetapi harus melalui proses penggemukan yang cepat dan sederhana dengan hasil yang lebih bagus,” katanya.
Lebih jauh Dahlanudin menambahkan, hingga tahun 2018, petani binaan program IFSCA di kabupaten Dompu itu sudah mencakup 25 kelompok di 5 kecamatan, diantaranya yakni Kecamatan Woja, Kecamatan Pajo, Kecamatan Manggelewa, Kecamatan Kempo dan Kecamatan Pekat.
“Penggemukan sapi menggunakan lamtoro dan gamal sebetulnya bukan baru dimulai di Dompu, sejak tahun 2011 sudah dimulai di Kabupatan Sumbawa Barat dan Sumbawa, keberhasilan disitulah yang kita lanjutkan disini,” ungkapnya.
Sementara itu, kepala Dinas Peternakan Kabupaten Dompu Ir Zainal Arifin, M. Si, sangat mengapresiasi program penggemukan sapi berbasis lamtoro dan gamal tersebut. Ia juga menilai bahwa program IFSCA telah berhasil mengubah pola pikir masyarakat Dompu untuk terus maju dan berkembang.
“Ini sangat membantu kita, program IFSCA telah berhasil merubah mindset atau pola pikir petani dari yang pemeliharaan tradisional ke pemeliharaan intensif atau lebih kepada bisnis yang menjanjikan,” ujarnya.
Kedepan pihaknya berjanji akan menerapkan pola penggemukan sapi dengan ramsum berbasis lamtoro dan gamal ini kesemua peternak yang ada di Kabupaten Dompu, ia menganggap pola tersebut telah memberikan perubahan yang sangat signifikan.
“Pola ini akan kita terapkan di semua Desa yang ada. Semoga program IFSCA bisa terus berlanjut di Kabupaten Dompu, agar bisa terus membuka wawasan dan pengetahuan para petani,” pintanya.
Untuk di ketahui, di Nusa Tenggara Barat program IFSCA telah dilaksanakan di dua kabupaten yakni Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Dompu. Di Dompu IFSCA dilaksanakan sejak tahun 2016 lalu dan akan berakhir di tahun 2019.
Program IFSCA bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dan peternak dalam konteks integrasi sapi dan tanamanan pangan (terutama jagung). Hingga pertengahan tahun 2018 ini, program IFSCA telah melibatkan 25 kelompok tani ternak yang tersebar di 5 kecamatan dan hingga di akhir program desember tahun 2019 nanti, IFSCA menargetkan untuk peningkatan kapasitas peternak di 35 kelompok di seluruh kecamatan. (Pur)
![]()


















