DOMPU — Fajar mungkin baru saja menyingsing di ufuk Desa Daha, Kecamatan Huu, tetapi langkah Hj. Jumrah sudah mantap. Sebagai seorang ibu dari dua orang anak, rutinitas paginya adalah harmoni antara mengurus keluarga dan mengejar waktu menembus jarak yang tak bisa dibilang dekat menuju tempat kerja.
Hebatnya, jarak tempuh itu tak pernah menang melawannya. Di kantor, ia nyaris selalu menjadi orang pertama yang membuka pintu di pagi hari, dan sosok terakhir yang menutupnya di kala senja.
Perempuan yang akrab disapa Umi Jumrah ini adalah salah satu squad pilar di Sub Bagian Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Sekretariat Daerah Kabupaten Dompu. Dalam ritme kerja pemerintahan yang serba cepat dan menuntut ketelitian tingkat tinggi, kehadiran Umi Jumrah ibarat oase.
Bukan karena ia tak pernah lelah, melainkan karena ia memilih untuk merespons rasa lelah itu dengan sebuah senyuman. Tutur katanya yang senantiasa lemah lembut dan pembawaannya yang menenangkan membuat siapa pun yang berpapasan dengannya, baik di lorong kantor maupun di luar jam kerja, merasa dihargai. Tak heran jika ia bagaikan magnet yang dikelilingi banyak teman dan sahabat.
Dari sosoknya yang keibuan, Umi Jumrah menyimpan etos kerja yang pantang menyerah. Hampir semua tugas berat yang bersandar di pundaknya mampu ia selesaikan dengan presisi. Rekan-rekan terdekatnya tahu betul rahasia di balik ketangkasannya: rasa lapar yang tak pernah berkesudahan untuk terus belajar.
Berbekal latar belakang pendidikan tinggi di jurusan Ekonomi Akuntansi, Umi Jumrah meyakini bahwa kesuksesan dalam pekerjaan apa pun berakar pada kemauan untuk beradaptasi. “Saya suka belajar dan selalu merasa tertantang untuk bisa menyelesaikan setiap tugas dari pimpinan. Di situlah letak semangat saya,” ucapnya pada suatu kesempatan.
Hebatnya, deretan kompetensi dan pujian dari rekan kerja tak pernah membuatnya tinggi hati. Dengan pandangan yang teduh, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri, Semua kelebihan yang kita punyai pada hakikatnya hanyalah anugerah, sebuah titipan yang mesti kita syukuri dengan cara melakukan yang terbaik.
Ada satu ‘keahlian rahasia’ dari Umi Jumrah yang selalu sukses menghidupkan suasana di ruang kerja maupun di grup obrolan instansi yakni, kemahirannya berpantun.
Bagi perempuan berhijab ini, pantun bukan sekadar susunan rima dan kata. Ia menggunakannya sebagai medium untuk menularkan energi positif. Ketika tumpukan dokumen mulai membuat pusing atau tenggat waktu semakin sempit, pantun jenaka dan penuh makna dari Umi Jumrah sering kali menjadi penyelamat yang memancing tawa dan semangat baru.
“Iya, dengan berpantun di grup itu hitung-hitung menghibur. Selain itu, ini adalah wahana untuk saling support, agar semua teman-teman tetap punya nyala semangat yang tinggi saat bekerja,” tuturnya dengan mata berbinar.
Bagi Umi Jumrah, bekerja bukan hanya soal menuntaskan kewajiban administratif, tetapi juga tentang memperbanyak tabungan kebaikan. Ia memiliki satu harapan sederhana yang sering ia sebarkan kepada rekan-rekannya: mari saling mendoakan.
“Sepanjang kita masih diberi umur, mari saling support dan mendoakan kebaikan. Karena dari doa-doa itulah hidup kita bisa menjadi jauh lebih berkah,” pesannya tulus.
Semangat persaudaraan itu juga ia wujudkan dengan seutuhnya. Ia selalu menolak untuk membatasi keakraban hanya di balik meja kantor. Umi Jumrah secara terbuka membentangkan karpet undangan bagi siapa saja rekan kerjanya yang sedang berada di Kecamatan Huu.
“Bila kebetulan ada kegiatan di Kecamatan Huu, jangan lupa mampir ke rumah di Desa Daha. Dengan rasa kekeluargaan dan pintu yang terbuka lebar, saya pasti akan menyambut kehadiran teman-teman semua,” pungkasnya dengan semangat dan senyum hangat penutup perjumpaan.
Umi Jumrah membuktikan satu hal yakni, dedikasi tertinggi dalam pekerjaan tidak hanya diukur dari seberapa keras kita bekerja, tetapi dari seberapa banyak hati yang berhasil kita sentuh dengan kebaikan selama mengerjakannya. (Alfatih)
![]()



















