DOMPU, MATITINEWS.COM – Kasus pandemic Covid-19 mengubah semua rencana yang sudah ditentukan baik secara individu maupun kelompok bahkan yang dirancang oleh sebuah tatanan Pemerintah. Musibah ini menimpa semua negeri, tidak luput menggeser rencana masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Dompu Provinsi nusa Tenggara Barat (NTB).
Hari – hari di Bulan April setiap tahun biasanya menjadi hari yang menyenangkan dan penuh kebahagian bagi masyarakat Dompu karena pasti diwarnai oleh agenda syukuran maupun pagelaran dan festival budaya, perenungan, acara do’a dan dzikir bersama yang selalu diikuti oleh masyarakat dari semua elemen.
11 April tahun 2020 yang ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Dompu ke 205 tahun, harus berlalu tanpa gemuruh dan gemerlap. Tidak ada upacara Hari Ulang Tahun (HUT), tidak ada kegiatan Festival Tambora, tidak ada agenda cetak record MURI juga tidak ada pagelaran music maupun kemah di padang savannah Gunung Tambora.
Bupati Dompu Drs. H. Bambang M. Yasin (HBY) saat diwawancarai wartawan di ruang kerjanya menyebutkan, peristiwa pandemic Covid-19 yang muncul di saat Kabupaten Dompu hendak merayakan pesta kebahagiaan ini adalah bukan sebuah hal yang kebetulan. Karenanya, harus dijadikan sebagai refleksi dari sebuah kehidupan, misalnya dengan membayangkan seperti apa dan bagaimana, dulu perjuangan nenek moyang masyarakat Dompu menghadapi situasi yang sangat sulit bukan saja pada saat peristiwa dahsyatnya letusan gunung Tambora, tetapi dampak dari letusan itu kemudian bertahun – tahun terjadi kemarau panjang gagal tanam dan gagal panen di kalangan petani masa itu.
“Bukan kah peristiwa itu mengakibatkan terjadinya kasus kelaparan yang berkepanjangan di kehidupan masyarakat pulau Sumbawa ? Dibandingkan kondisi kita saat ini masih jauh lebih baik. Karena yang dibatasi sekarang bukan membatasi orang untuk makan untuk pesta dan sebagainya, yang kita batasi sekarang adalah intensitas bertemu di tengah kerumunan masyarakat untuk menghindari terjadinya mutasi virus yang kita cegah”, tutur H. Bambang.
Menurutnya, moment wabah Covid-19 ini, alangkah jauh lebih baik bagi semua elemen untuk memikirkan merenungkan kelebihan dan kekurangan yang selama ini telah diperbuat untuk keluarga, kerabat, tetanga, masyarakat dan daerah. “ ya mungkin saat inilah kita harus serba melipat gandakan kebersamaan kita dengan anak isteri di rumah, yang mungkin kita selama ini kurang saling mencanda, kita kurang berkomunikasi ya mungkin saat ini kita diingatkan untuk pulang ke rumah kita masing guna melihat dan memperbaiki situasi dan keadaan”, terang HBY
Kondisi ini juga dimanfaatkan Bupati Dompu HBY guna lebih banyak bercengkerama dengan keluarga. Dia mengaku sekarang memiliki banyak waktu untuk bersama keluarga. Sehingga tidak heran dia bisa melakukan hal – hal yang selama ini sudah jarang ia kerjakan mislanya, untuk merapikan barang – barang yang ada di dalam rumah bahkan merapikan isi lemari.
Bupati Dompu ingin menekankan bahwa, dahsyatnya letusan Gunung Tambora pada 11 April 1815 dan berbagai dampak yang ditimbulkan setelah itu, tidak membuat masyarakat Pulau Sumbawa khususnya masyarakat Dompu untuk pasrah. Demikian pula dalam menghadapi Covid-19, HBY sangat yakin bahwa kebersamaan seluruh masyarakat untuk mentaati setiap himbauan pemerintah akan mampu memutus mata rantai penyebaran Covid-19. (Ad)
![]()

















