DOMPU – Fenomena anak-anak yang mengenakan kostum badut di persimpangan jalan di Bolly, DIY, SPBU Karijawa dan yang tersebar di tempat laon di Dompu, bukan lagi sekadar potret kemiskinan kota, melainkan sinyal kuat adanya praktik eksploitasi anak yang terorganisir secara rapi dan sistematis. Pemandangan ini bukan lagi hiburan, melainkan pemandangan yang menyayat hati bagi siapa saja yang peduli pada masa depan generasi bangsa.
Subroto, seorang warga yang kerap melintasi beberapa jalur tersebut, tidak bisa lagi menyembunyikan kegelisahannya. Bagi dia, melihat tubuh-tubuh mungil itu bergelut dengan panas aspal dan polusi kendaraan adalah sebuah kegagalan kolektif dalam melindungi anak.
“Sudah sangat meresahkan. Kasihan anak-anak di bawah umur itu. Seharusnya, di jam-jam mereka beroperasi, mereka duduk manis di bangku sekolah, bukan malah berkeliaran di lampu merah mengais rezeki dengan beban kostum yang berat,” cetus Subroto
Dia mendesak agar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) tidak hanya menjadi penonton, tetapi segera turun lapangan untuk memutus rantai eksploitasi ini.
Dugaan bahwa aktivitas ini dikendalikan oleh “tangan dingin” bukan tanpa alasan. Pengamatan di beberapa titik, pergerakan anak-anak ini tidaklah acak. Ada ritme dan koordinasi yang mencurigakan.
Subroto mengaku sering melihat adanya sosok dewasa yang memantau dari kejauhan, seolah-olah sedang memastikan target setoran terpenuhi.
Indikasi organisasi ini semakin menguat dengan adanya titik transit. Beberapa warga melaporkan bahwa area di sekitar Hotel Samada sering dijadikan titik pertemuan. Di sana, anak-anak tersebut terlihat berganti pakaian dari seragam kumal ke kostum badut sebelum disebar ke titik-titik strategis.
Praktik ini menunjukkan adanya manajemen yang matang yakni adanya penyediaan Kostum Seragam yang diduga disewakan atau disediakan. Oknum ini sepertinya sudah memplotting lokasi sebagai zona operasi agar tidak terjadi tumpang tindih. Selain itu didugaan ada transportasi yang mengantar-jemput mereka ke lokasi.
Banyak pihak yang menilai aktivitas ini sebagai bentuk eksploitasi ekonomi murni. Anak-anak dijadikan komoditas untuk memancing rasa iba pengendara.
Tengah teriknya matahari, mereka kehilangan hak-hak paling mendasar yakni, hak memperoleh Pendidikan. Akibat jam kerja yang panjang merampas waktu belajar ank- anak ini. Dari segi Kesehatan, anak- anak ini terkena Paparan timbal kendaraan dan dehidrasi akut mengancam fisik mereka. Secara Psikologis, mentalitas meminta-minta yang tertanam sejak dini akan merusak karakter mereka di masa depan.
Diharapkan agar DP3A bersama aparat penegak hukum untuk segera melakukan investigasi menyeluruh, bukan hanya menertibkan anak-anaknya, tetapi menangkap aktor intelektual atau “bos” di belakang jaringan ini.
Topeng badut itu mungkin tampak jenaka, namun sebnarnya ada air mata dan masa depan ank-anak yang dirampok. Kesaksian warga seperti Subroto adalah alarm keras bagi Pemkab Dompu bahwa, ksploitasi ini harus dihentikan sekarang juga, sebelum lebih banyak anak yang kehilangan jati diri dalam pengapnya kostum badut. (bair)
![]()
















