DOMPU – Gunung Pajo kini tak lagi berdiri kokoh, di balik rimbunnya hutan dan kemegahan puncaknya, ada luka menganga akibat aktivitas penggalian ilegal yang semakin masif.
Para pengusaha tambang tak berizin ini kian berani mengeruk perut gunung demi mengejar bongkahan logam mulia, tanpa peduli warisan alam bagi generasi mendatang.
Pertaruhan Nyawa di Lubang Maut Aktivitas tambang ilegal di Gunung Pajo bukan sekadar pelanggaran administratif, juga mejadi ancaman nyata bagi nyawa manusia.
Struktur tanah yang tidak stabil akibat penggalian tanpa kaidah teknis yang benar menjadikannya bom waktu. Risiko longsor di dalam lubang sempit itu sangat mengancam jika praktik serampangan ini terus dibiarkan tanpa pengawasan.
Yang lebih mengerikan lagi adalah penggunaan zat kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida dalam proses pemisahan emas. Limbah beracun ini acap kali dilepas langsung ke aliran sungai tanpa melalui proses netralisasi.
Dampaknya sangat mematikan bagi ekosistem air. Merkuri yang masuk ke rantai makanan melalui ikan dan air konsumsi adalah racun saraf permanen yang akan melumpuhkan kesehatan manusia terutama mereka di sekitar bantaran sungai.
Kondisi ini tidak boleh diselesaikan hanya dari balik meja. Pemerintah daerah maupun pusat melalui dinas terkait harus segera turun ke lapangan. Penegakan hukum memang perlu, namun langkah persuasif melalui penyuluhan juga sangat mendesak.
Masyarakat dan pelaku tambang perlu diberikan pemahaman mendalam tentang bahaya lingkungan dan kesehatan yang mereka timbulkan.
Sudah saatnya ada tindakan nyata untuk menutup lubang-lubang ilegal ini sebelum Gunung Pajo benar-benar “runtuh” secara ekologis.
Jangan sampai kita bertindak setelah bencana longsor besar menelan korban jiwa, atau saat air sungai tak lagi bisa membasuh muka karena pekat dengan racun.
![]()













