Oleh: Jubair
Deru mesin dan aktivitas industri di Batu Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), berkontribusi lebih dari proses ekstraksi mineral. Sejak PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) beroperasi, lanskap ekonomi kawasan ini lambat laun berubah. Wilayah yang dahulunya mengandalkan sektor agraria subsisten kini menjelma menjadi motor penggerak ekonomi regional yang diperhitungkan di tingkat nasional.
Keberadaan AMMAN terbukti menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja skala besar, pemenuhan kewajiban fiskal yang menopang pembangunan daerah, serta penguatan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal. Hanya saja, ketergantungan pada sektor ekstraktif selalu membawa tantangan tersendiri terutama mengenai keberlanjutan masa depan.

Kesadaran inilah yang menyatukan visi manajemen AMMAN dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat untuk merancang cetak biru ekonomi yang tangguh, mandiri, dan tidak goyah saat siklus tambang memasuki fase akhir. Melalui kolaborasi strategis, investasi sosial disinergikan dengan kebijakan diversifikasi ekonomi untuk memastikan kemakmuran tetap berlanjut di Bumi Pariri Lema Bariri.
Jangkar Fiskal Daerah dan Penopang APBD
Kontribusi finansial sektor pertambangan terhadap struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) KSB menempatkan posisi perusahaan sebagai pilar utama pendapatan daerah. Pendapatan dari sektor ini dialokasikan kembali untuk membangun infrastruktur publik, fasilitas kesehatan, serta akses pendidikan bagi masyarakat luas.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) KSB, Ari Hadiarta, S.T., M.Si., memaparkan data performa fiskal daerah yang bersumber dari aktivitas industri pertambangan tersebut. Sepanjang tahun 2025, kontribusi pajak secara keseluruhan mencapai angka Rp 180 miliar diantaranya dari PT AMMAN. Jumlah ini memperkuat kapasitas fiskal daerah untuk mendanai berbagai program pembangunan mandiri.
Selain kontribusi pajak langsung tersebut, kas daerah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) menerima aliran dana segar yang bersumber dari bagi hasil atas keuntungan bersih PT AMMAN senilai Rp 98 miliar. Anggaran ini menjadi modal penting bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas fiskal dan menjalankan program-program kemasyarakatan yang menyentuh tingkat akar rumput.
“Yang pasti PT AMMAN mineral itu adalah wajib pajak tentu saja memberi banyak kontribusi pajak bagi daerah ini,” jelas Ari Hadiarta saat ditemui di ruang kerjanya Kamis 09/07/2026.
Ekosistem finansial ini diperkuat oleh komitmen investasi sosial perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) atau Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM). Nilai alokasi dana CSR pada periode sebelumnya tercatat berkisar pada angka Rp 100 miliar. Dana kemitraan ini disalurkan secara terukur untuk membiayai program pemberdayaan ekonomi, pembangunan fasilitas komunitas, peningkatan mutu kesehatan, dan beasiswa pendidikan bagi putra-putri daerah.
Meskipun kontribusi finansial ini menjadi penopang utama postur APBD Sumbawa Barat, pemerintah daerah tetap bersiap menghadapi dinamika regulasi dan status wilayah di masa depan. Ari Hadiarta mengingatkan adanya potensi pergeseran status daerah dari daerah penghasil menjadi daerah bukan penghasil di masa mendatang.
Ketika status daerah bergeser dari daerah penghasil menjadi daerah bukan penghasil, konsekuensi logisnya adalah penurunan dana bagi hasil yang diterima. Pemkab Sumbawa Barat memperkirakan terjadi penurunan sekitar sepertiga dari porsi yang selama ini rutin diterima oleh kas daerah.
“Kondisi inilah yang menuntut kita semua untuk mulai merumuskan langkah-langkah mitigasi sejak dini,” tutur Ari menekankan pentingnya efisiensi dan inovasi pendapatan.
Multiplier Effect dan Strategi Dampak Sosial AMMAN
Besarnya kontribusi fiskal berbanding lurus dengan dampak sosial-ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar lingkar tambang. Kehadiran industri skala besar memicu efek pengganda (multiplier effect) yang menggerakkan roda perekonomian lokal melalui penyerapan tenaga kerja massal dan penciptaan rantai pasok lokal.
Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, menjelaskan bahwa orientasi program dampak sosial perusahaan difokuskan pada upaya menciptakan kemandirian masyarakat agar mampu berkembang secara otonom.
Perusahaan memandang bahwa keberhasilan investasi sosial tidak diukur dari seberapa besar dana yang dikucurkan, melainkan dari seberapa tangguh masyarakat lokal bertahan dan berkembang tanpa ketergantungan mutlak pada operasional tambang.
Dirancang program dampak sosial dengan pendekatan holistik yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama pembangunan. Fokus utama kami mencakup penciptaan lapangan kerja, baik secara langsung dalam operasional perusahaan maupun secara tidak langsung melalui pengembangan ekosistem bisnis vendor lokal. “Kami berkomitmen memastikan kehadiran AMMAN memberikan manfaat ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Aji Suryanto.
Penciptaan lapangan kerja oleh AMMAN menyerap ribuan tenaga kerja lokal, yang secara langsung menekan angka pengangguran terbuka di Kabupaten Sumbawa Barat dan meningkatkan daya beli masyarakat. Selain menyerap tenaga kerja dalam sistem operasional utama, AMMAN membuka peluang bagi pengusaha dan kontraktor lokal untuk terlibat dalam rantai pasok perusahaan melalui penyediaan barang dan jasa.
Di sektor pengembangan usaha lokal, AMMAN memberikan pendampingan intensif bagi pelaku UMKM, mulai dari pelatihan manajemen keuangan, standardisasi mutu produk, hingga fasilitasi akses pasar yang lebih luas. Program pembinaan ini terbukti mampu menaikkan kelas usaha lokal, sehingga mereka tidak sekadar melayani kebutuhan internal karyawan tambang, tetapi juga mampu menembus pasar regional di luar Sumbawa Barat. Perkembangan usaha kuliner, jasa transportasi, pemondokan, dan sektor kerajinan tangan di sekitar wilayah operasional menjadi bukti nyata bagaimana kapitalisasi industri tambang menular ke sektor ekonomi rakyat.
Diversifikasi Ekonomi: Prioritas Baru Kabupaten Sumbawa Barat
Menyikapi proyeksi penurunan pendapatan daerah akibat potensi perubahan status wilayah pertambangan, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat bergerak cepat menyusun strategi jangka panjang. Langkah konkret diambil dengan menempatkan diversifikasi ekonomi sebagai program prioritas untuk membangun pilar ekonomi baru yang mandiri.
Bupati Sumbawa Barat, Amar Nurmansyah, secara konsisten mendorong penguatan sektor-sektor riil non-tambang sebagai tumpuan baru masa depan ekonomi daerah. Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan menjadi tiga pilar utama yang terus diintervensi melalui kebijakan anggaran dan bantuan sarana prasarana. Kebijakan ini diarahkan secara terukur untuk mengurangi ketergantungan APBD dan struktur ekonomi makro daerah pada sektor pertambangan yang bersifat menguras sumber daya alam (depleting assets).
Bupati Amar menegaskan bahwa masyarakat dan jajaran birokrasi tidak perlu menghadapi masa depan dengan rasa cemas yang berlebihan. Menurutnya, kesiapan yang matang dan transformasi paradigma ekonomi akan menjadi kunci keberhasilan Sumbawa Barat melewati masa transisi industri.
“Meski operasional pertambangan PT AMMAN suatu saat akan berakhir, bukan berarti segalanya serta merta berakhir bagi daerah ini, fasilitas smelter dan aktivitas produksi hilirisasi masih akan terus berjalan di Sumbawa Barat,” tegas Bupati.
Keberadaan fasilitas pemurnian (smelter) tembaga yang dibangun di kawasan industri Maluk menjadi jangkar ekonomi baru yang menjamin aktivitas industri manufaktur tetap berdenyut dalam jangka panjang. Industri hilir ini diproyeksikan membuka peluang kerja baru yang membutuhkan kualifikasi berbeda, sekaligus menjaga stabilitas penerimaan daerah dari sektor industri pengolahan.
Sembari menjaga momentum industri hilir tersebut, penguatan sektor pertanian modern mulai memperlihatkan hasil. Infrastruktur irigasi ditingkatkan, bantuan teknologi pertanian disalurkan kepada kelompok tani, dan tata niaga komoditas unggulan daerah mulai dibenahi. Pada sektor perikanan, potensi garis pantai Sumbawa Barat yang kaya dioptimalkan melalui pembudidayaan perikanan tangkap dan budidaya rumput laut yang melibatkan ribuan nelayan lokal.
Transformasi Ketenagakerjaan dan Peningkatan Mutu Vokasi
Keberhasilan diversifikasi ekonomi dan keberlanjutan mata pencaharian masyarakat sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal. Ketika struktur ekonomi bergeser, pasar kerja menuntut fleksibilitas, keahlian khusus, dan perubahan pola pikir dari para pencari kerja.
Pemerintah Daerah KSB bersama AMMAN melakukan transformasi radikal dalam pengelolaan ketenagakerjaan daerah. Pola pikir masyarakat yang selama ini berorientasi kerja melulu pada sektor pertambangan mulai diarahkan pada peluang-peluang kerja yang lebih luas dan variatif. Pemda mendorong masyarakat menangkap peluang karir global, termasuk memfasilitasi jalur menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang legal, terampil, dan terlindungi, serta membuka ruang bagi sektor kewirausahaan mandiri.
Instrumen utama guna mewujudkan pemetaan ulang kompetensi tenaga kerja lokal ini bertumpu pada keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) Poto Tano yang baru selesai dibangun. Fasilitas pelatihan modern ini diposisikan sebagai pusat inkubasi kompetensi dan standarisasi keahlian tenaga kerja lokal agar mampu bersaing di pasar kerja nasional maupun internasional.
BLK Sumbawa Barat menyediakan berbagai kejuruan strategis, mulai dari teknik pengelasan industri, otomotif, kelistrikan, hingga sektor pariwisata dan teknologi informasi. Kurikulum yang diterapkan di balai latihan ini diselaraskan dengan kebutuhan riil industri dan pasar usaha mandiri, sehingga para lulusan memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui secara resmi.
Melalui sinergi program vokasi ini, AMMAN turut berkontribusi memberikan dukungan pelatihan dan pemagangan bagi instruktur serta peserta pelatihan. Upaya kolaboratif ini memastikan penyerapan tenaga kerja tidak lagi bertumpu pada lowongan kerja operasional tambang di Batu Hijau, melainkan menyebar ke berbagai sektor industri manufaktur, jasa, dan wirausaha mandiri yang tumbuh subur di wilayah NTB.
Menuju Kemandirian Ekonomi yang Berkelanjutan
Perjalanan ekonomi Kabupaten Sumbawa Barat menunjukkan bagaimana kehadiran sebuah industri besar dapat dikelola menjadi berkah berkelanjutan melalui kepemimpinan yang bervisi ke depan dan tanggung jawab sosial korporasi yang terarah. Dampak positif AMMAN dalam mendongkrak pendapatan fiskal daerah, menyediakan lapangan kerja bagi ribuan kepala keluarga, serta menghidupkan pelaku usaha lokal telah meletakkan fondasi ekonomi yang kokoh di daerah ini.
Kombinasi antara kepatuhan pajak perusahaan, program sosial berdampak luas dari tim Social Impact, serta kebijakan diversifikasi sektor pertanian dan perikanan oleh Bupati Amar Nurmansyah, menjadi modal utama Sumbawa Barat menghadapi transisi ekonomi. Kesiapan SDM melalui jalur pelatihan vokasi di BLK melengkapi ekosistem ini, mempersiapkan generasi muda KSB menjadi motor penggerak pembangunan yang mandiri dan berdaya saing tinggi.
Dengan komitmen bersama yang terus terjaga, Sumbawa Barat sedang menuliskan cerita suksesnya sendiri, bahwa suatu daerah yang mampu memanfaatkan berkah kekayaan alamnya dipastikan tetap tegak berdiri membawa kemansirian dan kemakmuran bagi masyarakatnya, melampaui usia operasional tambang itu sendiri.
![]()


















